Lupa Mencinta
Posted on | December 4, 2009 | 32 Comments
Tiba-tiba jari yang lemah itu merengkuh lenganku
air matanya yang nyaris kering menyisakan kristal bening
di pipi yang dulu penuh pesona
kini tersisa garis-garis kepedihan
bagi setiap pelupuk mata yang memandang
Mengapa Tuan tinggalkan hamba
hamba ini abdi setia yang mengisi ruang kosong hati tuan
hamba menghibur dengan penuh kasih dan belaian cinta
hamba menyerahkan dan mencurahkan yang hamba miliki
kecantikan dan kesucian hamba, untuk Tuan
Mengapa Tuan abaikan hamba
kesetiaan hamba tanpa pamrih
asalkan tetap menyatu dalam jiwa Tuan
Hamba selalu bersolek, kalau-kalau nanti Tuan membutuhkan
hamba selalu bernyanyi lagu rindu nan syahdu
agar Tuan terlepas dari kegalauan
Kini kulit hamba tak semulus dahulu
senyum hamba tak lagi semanis madu
sinar mata hamba yang cemerlang telah redup
termakan kegelapan
tubuh hamba rapuh terseok disepanjang perjalanan
Tuan, bawalah hamba….ingatlah hamba
tabuhlah genderang cinta yang dulu Tuan mainkan
biarkan hamba menari gemulai
dan Tuanpun akan melihat betapa hamba cantik kembali
tabuhlah Tuan, tabuhlah genderang cinta
yang dulu Tuan mainkan
Aku terjaga diantara gulita
tubuhku bagai tersiram bara api yang meluluh lantakkan tulang
bagai terguyur salju yang membekukan darah
jiwaku galau mencari ketidakpastian
Hamba mana yang telah menuntut keadilan…
Aku menelusuri ke dalam diri
merenungkan gejolak hati, getar nafsu, buai pikiran
hingga sayup kudengar pujian nurani
hampir tak tersampaikan
Aku harus menangis atau tersenyum
dibawah kuasa Tuhan
catatan:
Ini adalah puisi lama release ulang
yang sekaligus sebagai partisipasi dalam Parade Puisi Cinta dari Pakde Cholik dan NakjaDimande.
Link to this post!
Comments
32 Tanggapan to “Lupa Mencinta”
Leave a Reply


![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://nursapto.com/wp-content/uploads/valid-rss.png)
February 19th, 2009 @ 02:14
ingin rasanya seperti itu,
apa daya masih belajar…
Masnur:
Makanye jangan protes mulu, ntar hati sendiri mau protes nggak kedengeran. kikikikik…
Belajar terus maju terus Mas….
February 19th, 2009 @ 07:02
Puisi ini bagus…
Mudah-mudahan Tuhan meresponnya..
Masnur:
Tuhan pasti merespon, kitanya aja tahu apa nggak……
February 19th, 2009 @ 07:11
Saya suka kata-kata …
kini tersisa garis-garis kepedihan
bagi setiap pelupuk mata yang memandang
Masnur:
I loved it, too…makasih kunjungannya mas Ersis
February 19th, 2009 @ 11:03
menangis atau tersenyum? sesekali perlu menangis lain waktu bolehlah tersenyum
Masnur:
Boleh, boleh…..yang penting nggak pura-pura ya mas.
February 19th, 2009 @ 11:43
good….good…good….
Masnur:
Thank, thak, tang….?! dah berkunjung balik.
February 19th, 2009 @ 15:59
nurani koq didemo?
ada juga, dimintai pertanggungjawaban..
Masnur:
Aku yakin ada perang batin seperti itu ….
February 19th, 2009 @ 21:18
Tuan-tuan, dengarlah rintihan hati sang bidari…
February 19th, 2009 @ 21:20
Puisinya, kata2nya indah mas
Masnur:
Makasih, moga-moga bisa memperindah suasana hati pembacanya.
February 20th, 2009 @ 13:10
Sejenak aku terpaku.. Mas Nur ternyata puitis banget ya? *idih baru sadar, kemana aja Non?*
Tapi Mas, kadang kita terlalu menuntut untuk Tuhan kita, padahal belum tentu lho apa yang kita lakukan itu sudah sesuai dengan ‘aturan’-Nya..
Salam manis ya…
Masnur:
Nggak puitis banget kok, cuma kalo ada tuntutan batin dan pas mood nggak bisa ditolak harus ditulis.
Sebenarnya aku nggak tega ngomongnya soalnya beberapa komen diatas termasuk mbak Upik salah tafsir…..(buka rahasia, nih). Puisi ini tentang berontaknya hati nurani yang saya lambangkan sebagai wanita cantik , protes karena dicuekin dalam setiap tingkah laku manusia. dst..dst
February 20th, 2009 @ 15:10
wah sudah ramei…
salut…kata-katanya makin cihui…sip!
kadang-kadang apa yang kita inginkan, tak sesuai dengan apa yang terjadi.
Masnur:
Ini semua berkat support mbak Aling dari awal sehingga aku tetap semangat. Berapa kali aku ucapkan makasih, ya…. raanya belum cukup juga
February 20th, 2009 @ 16:38
Sudah lama saya berangan-angan membuat puisi, tapi gak pernah jadi. Lebih baik saya jadi penikmat puisi saja sambil tukar linknya ya. Matur nuwun kunjungannya
Masnur:
Tapi memang puisi adalah karya seni. Jadi dibutuhkan gerakan hati bukan sekedar teknik menulis. Saya sendiri kalau tidak mood tidak bisa begitu aja nulis puisi, tapi begitu mood biasanya hanya butuh 5-10 menit untuk nulis hingga selesai baru setelah itu dikoreksi. Langsung aku link balik Cak, makasih.
Kalau cuma berangan-angan ya nggak jadi Cak, kalau mulai nulis nanti lama-lama jadi.
February 21st, 2009 @ 02:21
Wah penyuka puisi juga yaw Maz..
Salam hangat Bocahbancar…
Masnur:
Wee…kemana aja man, kupikir lupa jln kesini. Nulis puisi tu hanya nuruti kebuth batin, jadi kalo nggak ada dorongan dr dlm ya gak nulis. Salam balik. Sukses selalu.
February 21st, 2009 @ 15:45
wah aku telat ikut demo..
salam kenal aja dari masrur (beda dikit hehehe..)
tukeran link ya mas..
makasih.
Masnur
salam kenal balik, makasih kunjungannya
February 21st, 2009 @ 18:09
salam kenal bos
nurani apa bisa didorong2 ya? nurani apa bisa direkayasa ya?
nurani apa bisa kompromi sama akal? sama hati ?
hehehheh
thanks bos
Masnur:
Wuaduh…aku paling alergi kalo dipanggil bos…… jangan diulangi yo…..
Soalnya bos kalo ditambah ok, bisa bos ok! tapi bisa juga bosok (busuk)…….
Hanya satu jawabannya “Tidak Bisa”. Nurani adalah bagian ubuh kita yang paling susah dituruti maunya. Tapi sekali kita mengikuti nurani, kedamaian dan kebaikan akan kita dapatkan. Makasih kunjungannya
March 11th, 2009 @ 06:28
Tiba-tiba jari yang lemah itu merengkuh lenganku.
Mas mau tanya jari yang lemah itu si tuan apa simas?.Merengkuh tu? lenganku sudah pasti situ ya
Nga konfirmasi aja ini?walau puisi itu memang bebas.Puisi memang tak pernah salah.Karena siempunya lah yang mengiterprestasikan.
March 11th, 2009 @ 09:53
Ass.
Ya … biarlah menangis dan tersenyum di bawah kuasa Tuhan, karena tangisan dan senyuman bagian dari anugerah Nya.
Sajak yang mengesankan …. ada yang agak tanda tanya????? “Jiwaku galau mencari ketidakpastian” ….
Masnur:
Mmmmmhhh……(jadi pengin tersanjung….dah), oh,itu maksudnya si “Aku” terjaga dari kelalaiannya dan dalam kondisi ketidakpastian hingga terdengarlah suara nurani. (Wah…bocor nih….tapi Aku tidak selalu aku lho) ‘:)
December 4th, 2009 @ 18:08
Menangis dan tersenyum akan silih berganti
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta mas.
Salam hangat dari Surabaya
December 4th, 2009 @ 19:03
juri lagi jalan-jalan ngecek puisi peserta
hmm, komentar juri harus disimpan dulu
tak elok bila kelihatan suka, bisa memancing kecemburuan dari peserta lain
December 4th, 2009 @ 20:40
Wah sepertinya para juri langsung inspeksi mendadak, deg-degan nih sekaligus tersanjung.
Terimakasih Pakde, terimakasih Bundo.
December 4th, 2009 @ 20:41
salm kenal
puisi yang bagus
#Salam kenal balik, Terima kasih#
kabol´s last blog ..MENCARI SETITIK CAHAYA
December 4th, 2009 @ 22:17
ingin kaya gitu
#Kayak apa? #
December 5th, 2009 @ 03:17
diikutkan lomba Mas Nur?
Mantap deh
#Iya mas Narno, soalnya mau bikin yang baru lagi kurang konsent,jadi ya rilis ulang aja#
December 5th, 2009 @ 05:09
jago juga nih Mas Nur berpuisi. btw, kalau satu pragraf saja di atas, sudah jadi puisi satu mas kalau saya, he..
habis, pasti kehabisan kata-kata. aku nyerah deh di PPC…
#Wah itu nulisnya pas lagi kumat Mas, kalau normalnya sih sering kehabisan kata-kata juga.
Lho kok nyerah, kalau saya menikmati aja nggak perlu kemrungsung. Memang terasa berat pada awalnya#
Badruz´s last blog ..Walimahan Kelabu
December 5th, 2009 @ 09:12
Puisinya ngedab-edabi…
#Nggak serem kok Pak? cuma cerita cengeng, hehehe…….#
marsudiyanto´s last blog ..Semua Rasa Untukmu
December 5th, 2009 @ 17:07
HHmm….Saya datang lagi menyapa sang pemilik puisi cinta
#Hehehe….serasa kembali ke awal tahun ya…..#
Joko Setiawan´s last blog ..FROM THE JAPAN FOUNDATION
December 5th, 2009 @ 20:53
puisinya bergaya pujangga lama… sip tenan!!
tambah satu puisi nyiamik seperti ini membuat pusing dewan juri
#Hehehe…memang niatan saya bikin puyeng Pakde dan Bundo (nggak ding…..bercanda)…..#
December 5th, 2009 @ 21:28
tidak disangka, ternyata ada bakat terpendam sebagai seorang pujangga …
hebat mas, rangkaian baitnya penuh makna …
#Terima kasih….tapi jangan terlalu disanjung lah, itu nulisnya khan pas lagi kumat, hehehe…..#
hpnugroho´s last blog ..Cinta itu membuatku Gila
December 6th, 2009 @ 05:35
melongo di sela bahagia membaca puisi ini.
bahagia karena blogku sudah kembali setelah kebakaran.
melongo karena kata-kata yaang tersusun mirip puzzle dari yang berserakan menjadi indah dibaca.
#Tersanjung mode on……..selamat ngeblog lagi Kang…..semoga neng suspendnya nggak usah mampir ketempatku#
arkasala´s last blog ..Siklus
December 7th, 2009 @ 21:42
duh, Mas nur hebat sekali sih bikin puisinya , dgn gaya penyair banget.
Pasti bundo dan Pakdhe bingung tuh……he….he….
Semoga sukses utk acara PPC nya PakDhe ini ya Mas.
salam.
bundadontworry´s last blog ..Manfaat Putih Telur.
December 7th, 2009 @ 22:25
Hehehe…..Pakde dan Bundo pasti punya kriteria sendiri dalam menilai. Lagipula ini sekedar partisipasi kok Bun, menang kalah bukan tujuan utama.
Goldenray ins´s last blog ..Pesta makan malam buatan Ibu
December 9th, 2009 @ 13:14
pengecekan ulang dari dewan juri..
#Juri mulai menilai rupanya……berdebar-debar nih……..#
Juri PPC´s last blog ..Di Bawah Pohon Jambu
December 9th, 2009 @ 21:21
semoga termasuk pemanang ya
sinopi´s last blog ..HATI-HATI FACEBOOK PALSU!!!